Monday, November 25, 2019

What will be my second act?

Pertama-tama, selamat hari guru nasional !
Saya ingin merayakannya dengan menulis lagi setelah entah berapa purnama.
Saat upacara hari ini, percakapan dengan rekan senior yang tahun depan akan pensiun membuat saya berfikir. Alangkah senangnya jika di negara saya ini saya bisa memulai profesi baru di usia sepuh seperti Carol di sitkom yg saya tonton Carol's second act. Atau Nolan di serial The Rookie. Carol adalah mantan guru yang menjadi dokter sedangkan Nolan adalah entah apa saya lupa yang menjadi seorang polisi patroli.

Beberapa dari kita mungkin sudah punya rencana pensiun. Beberapa benar2 hanya mau istirahat. Dan lainnya mungkin hanya mau melihat pintu apa yang terbuka nanti, baru memutuskan. Saya yang mana?

Mudah2an saat saya pensiun nanti, negara kita sudah memungkinkan pensiunan memulai profesi baru seperti dokter atau polisi, ya..
I might be a ....

Happy Teachers day!



Saturday, March 12, 2016

Okra Goreng

Tahu tanaman Okra tidak?
Suka serial TV The Closer tidak?
Saya punya banyak tanaman Okra dirumah dan suka dengan serial The Closer.
Apa hubungannya, you might ask.

Jadi, sewaktu menonton salah satu episode The Closer, si Brenda tokoh utamanya menyebutkan Okra Goreng sebagai makanan khas kota asalnya. Si Brenda ini karakter berasal dari US bagian selatan, daerah dimana fried okra termasuk salah satu signature dish (hasil meng-google). Wah! Saya jadi semakin semangat memasak okra goreng.

Okra-okra di rumah selama ini kurang tergunakan. Tahu, kan, kalau Okra itu berlendir. Jadi butuh waktu untuk terbiasa memakannya. Sebenarnya, hasil dari WikiHow, saya sudah pernah menggoreng okra dan memang lumayan enak. Benar kata WikiHow, untuk pemula dalam mengkomsumsi Okra, okra goreng adalah yang mungkin paling cocok. Namun, episode the Closer ini membuat saya semakin semangat menggali resep-resep Okra.

Okra, I'll cook you good! :)

Tuesday, March 08, 2016

minta gendong

Kemaren sore aku memarahi F. Tidak membentak sih, tapi menolak sesuatu hingga ia menangis. I made him cry. On purpose. Tega, ya? Entah benar atau tidak, tp i meant to teach him a value. I second guess what i did now. After all, he is a little child. A baby.

Back to the tittle. Waktu nangis, F kupeluk sambil aku duduk. Aku brayun seolah2 lg gendong tp aku duduk. Pas udah reda nangisnya, malah minta gendong. Aku tolak. :( Ini mak yg ga tahan nggendong. :(

Dini hari ini aku marahi lagi. Nonton tengah malam. Ditunggu2 dah sampai 2 jam. Posisi sambil tidur. Marahlah daku. Membentak insyaAllah gak ya (menurutku, sih).. tapi stern voice lah. Ketahuan kalo lg marah. Tv ku matikan. Ngomel pake suara marah tadi. Menangislah si bocah lalu minta gendong. O why oh why minta gendong, pikirku.. si mak yg ga tahan nggendong pun menolak.

Aku peluk sambil tiduran, posisikan dia untuk tidur, gosok punggungnya lalu ga lama si F pun tertidur.

Skrg aku yg ga bs tertidur. Biasa, full of thoughts n regrets. Baru nyadar, dari 2 peristiwa nangis ini, si F minta digwndong itu artinya dia mau kepastian  kalau dia 'dimaafkan' oleh mamanya ini. Dia disayang oleh mamanya ini.

Hiks mewek deh. Maafkan makmu, anakku. I'll love you always and forever, son. Moga kamu juga begitu, sayangku cintaku.

Note: Tusdlisan ini dibuat tanggal 8 Maret, dan beberapa jam setelahnya aku menstruasi. Ya Allah, PMS toh, yang bikin tidak sabaran. :(

Thursday, April 30, 2015

On Weaning (with love)

So my baby boy F turned two yesterday. Since I have decided to wean him when F is two, weaning (with love) program is activated.
Why do i put the phrase 'with love' in brackets? It's because even though i wish i could do it the weaning-with-love way to wean F, i am willing to do the-sudden-weaning way, if i have to. You know, putting something red or bitter on your breast.
I really hoped I wouldn't have to do that. Weaning with love is still the goal. Thus, I have told F since a month ago that he could only nurse for a month. I told him when he blows a candle and is two years old, he is a big boy and big boy does not breastfeed anymore. F then complained, whined, and  cried. He did the same when I tried to wean him during the day. So, he still nursed actively till yesterday.

Naturally, I am worried if i really have to do sudden weaning. So last night, I lit two (regular) candles and ask him to blow it. He did, with big help from his dad. I was so anxious when it was time for bed. But alhamdulillah....., when he asked to nurse, I just reminded him that he is two, has blown the candles, and is a big boy.  I am a PROUD mama. Baby,... i love you so much.

Until  today, he understands when I refuse to nurse him. I hope this weaning with love thing is really succesfull. Aaamiin...

Note:
My heart broke a little when
  1. he asked for a hug before he managed to fell asleep. (Rubbing his body to get him to sleep took forever without breast-feeding)
  2. he was restless in his sleep. he rolled around and almost rolled to the floor. Thank god I somehow woke up and catched him in time.
  3. I refused his asking to nurse at 3.30 am and F asked for milk instead. I totally wanted to cry. I ended up nursing him (partially because my breasts were hard and hurting).

Thursday, March 12, 2015

22m

sdh bisa menggunakan kata dulu dan imbuhan -nya (bengkulu: nyo).
lucu sekali..
dan sudah bisa mengucapkan kalimat yang terdiri dari 5 kata.
misalnya: rid gi mah nenek dulu! (sambil bawa payung).. rid mamam si reng dulu (farid mamam nasi goreng dulu)
i said : dah mandi tingal mamam lagi, he said dah mandi nggal mamam gi.

gigi masih 8 bawah 6 atas. masih kurang banyak, sih.

toilet training masih bmau belum sukses, tp sekarang kl mau kencing, turun ke lantai dari kasur. Kl dibawa ke wc, sdh bs pup.

dah diajak pakai baju sendiri, celana sendiri. masih blm mau belajar.

dibelikan krayon, dah corat-coret dinding. :)

ternyata sukaaa nasi goreng. hehe

loncat kapan sih, seharusnya bisa? blm bisa si F.

suka teriak ma ek (bima x) dan mulai memukuli siapa aja. :P

Farid, I love you oh so much!
mmmuuuuuuaah

Saturday, May 31, 2014

My Mom is a Super Mom

Kurang lebih sebulan sudah kami pindah ke rumah sendiri. Farid, maminya dan baknya beserta tantenya resmi menghuni rumah baru kami.
Bagaimana perasaan Mami Farid?

Aaaaakkkk, I'm nothing like my mom. :( Ibu saya yang dulu beranak 4, susun paku, bekerja full-time sebagai guru dan di rumah tidak ada asisten rumah tangga hands-down merupakan seorang super mom. Beliau mampu mengurus keluarga besarnya itu sendiri tanpa pernah terlambat datang ke sekolah setiap harinya.

Ibu saya benar-benar sendiri lho. Mertua jauh di desa. Ibunya apalagi, lebih jauh lagi di propinsi yang berbeda. Tidak ada pengasuh. Baby-wearing jadi andalan tentunya. Ibu bercerita betapa saya (dan saudara saya juga pastinya) "dipakai" di punggung beliau dengan kain gendong. Bagaimana tidak. Pekerjaan rumah harus dikerjakan. "Tidak ada ceritanya ibu seperti kamu, yang menghabiskan waktunya dengan bermain dengan Farid. Mana ada waktu". Huhuhuhuhuhu... Ibuuu, I love you.

Sedangkan saya? Ahhhhh, maluuuuuuuuuu.... :'( Saya sekarang masih beruntung ada tante Farid yang bisa membantu mengasuh. Itupun saya masih keteteran untuk bisa datang tidak terlambat setiap pagi dan pekerjaan masak memasak beres. :((

Kacau banget, ya? Harus diperbaiki manajemen waktunya, nih. Baiklah, bulan kedua harus lebih baik. Apalagi tante Farid akan segera merantau sesudah lebaran. Pengasuh, pengasuh, dikau harus kucari kemana? TPA kah alternatifnya? Hiks...


Monday, May 05, 2014

Mengajar di SMA Favorit vs Mengajar di SMA (Sangat Tidak) Favorit

Dapat percakapan menarik hari ini tentang yang tersebut di judul post ini.
Saya bertanya ke guru yang sudah pernah mengalami mengajar di sma paling favorit ke sma yang biasa-saja-cenderung-bermutu-rendah.
Kebetulan saya dan beliau sekarang mengajar di sma yang sama, yang tidak favorit ini.
Ini rangkuman pembicaraan kami (yang terputus karena saya harus mengajar).

Sisi Negatif
 Ilmu sang guru mati jika mengajar di sma non favorit. Tidak perlu belajar lagi. Toh, para siswa tidak peduli untuk memperoleh ilmu. Guru tidak tertantang ataupun terpaksa belajar. Bye bye mengajar dengan media. Apalagi baca jurnal. Secara keilmuan, sedih deh... Pengembangan diri terhenti. Kasarnya, lama-lama jadi bodoh.

Sisi Positif
Nah, this one is really interesting. Sebenarnya, i heard it before. Bahwa kalau di sma non favorit, kedisiplinannya penegakan disiplinnya sangat kurang. Tidak perlu terbirit-birit di pagi hari agar tidak terlambat datang. Tidak ketat soal disiplin mengajar. Yang menarik adalah.... bahwa hal ini secara tidak langsung (atau langsung?) berkorelasi dengan penambahan anggota keluarga sang guru. he he. bingung?
Ada 3 guru di sma ini yang punya pengalaman mengajar di sma favorit dan non favorit dan guess what? Ketiga-tiganya hamil lagi setelah mengajar di sma ini. Mereka tidak lagi muda, lho.. hampir 40 dan ada yang hampir 50. Interesting, kan?
Sangat dong... terutama bagi saya yang masih dalam fase reproduksi dalam pernikahan saya (alias umur pernikahan masih muda, he he he).
Harus digarisbawahi tapi, ketidakdisiplinan bukanlah hal positif tentu saja. Yang saya anggap positif disini, positif bagi ibu-ibu guru yang hamil dan beranak kecil. Yang rawan terlambat. ha ha (Ibu saya yang supermom pasti protes, nih)

Ujung-ujungnya, saya pilih yang mana?
If I could choose, maunya di tempat dimana saya akan terus mengembangkan diri dong. Pengembangan diri jalan, fase reproduksi juga jalan. :)